Selasa, 29 September 2020

                                 PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL DI ERA PANDEMI

Sehat menurut pandangan orang awam mungkin hanya dilihat dari segi jasmani saja. Padahal jika kita telisik lebih dalam, kesehatan mental kita juga tidak kalah penting lho, teman-teman. Sayangnya, pembahasan tentang kesehatan mental ini masih terkesan tabu di Indonesia, karena stigma negatif tentang  kata ‘gangguan mental’ masih saja menghantui. Orang dengan gangguan mental seringkali dianggap gila atau sakit jiwa, padal kenyataannya tidak seperti itu. Secara garis besar pembahasan tentang kesehatan mental ini sering kali dianggap remeh dibandingkan dengan kesehatan fisik. Akibatnya, banyak penderita yang takut dan memilih untuk tidak menceritakan gangguan mental yang dialaminya.

            Memangnya apa, sih, kesehatan mental itu? Menurut World Health Organization atau yang biasa kita sebuh WHO, kesehatan mental adalah kondisi dimana kita bisa menyadari apa potensi kita, bisa menghadapi daily stress, bisa bekerja secara produktif, dan bisa menghasilkan kontribusi yang baik terhadap masyarakat. Kriteria tersebut bisa juga menjadi acuan untuk menentukan apakah mental kita cukup sehat atau tidak.

Orang dengan gangguan mental mungkin saja berada dalam breaking point yang dia temui di hidupnya. Misalnya saat orang mengalami kegagalan, merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga, dan bisa juga sedang merasa tertekan dengan cobaan dari lingkungan sekitar yang dia hadapi.

Setiap individu dapat mengalami gangguan mental. Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami gangguan suasana hati, menurunnya kemampuan berpikir, dan bisa saja tindakannya akan mengarah pada prilaku yang buruk. Gangguan mental bisa bermula dari stres yang diabaikan. Oleh karenanya, stres harus ditanggulangi agar tidak dibiarkan berlarut-larut. 

Stres bukanlah sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya. Masih berdasarkan survei Cigna tahun 2018, mayoritas orang Indonesia mengaku lebih memilih mengatasi stres secara mandiri. Hal tersebut dilakukan dengan cara mencurahkan keluhan kepada teman atau keluarga, tidur, olahraga, belanja, dan liburan.

Hanya 1 dari 5 orang atau 20% responden saja yang meminta bantuan tenaga profesional (psikolog atau psikiater), untuk membantu mengatasi stres. Alasannya utamanya, mereka berpikir konsultasi pada psikolog atau psikiater akan menghabiskan banyak uang.

WHO menyebutkan, anak muda alias generasi milenial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Misalnya upaya untuk lulus kuliah, mencari pekerjaan, atau mulai menyicil rumah.

Selain perubahan hidup, teknologi juga turut berkontribusi terhadap kesehatan mental generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan media sosial. Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak seindah kenyataan. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi muda. 

Di era pandemi seperti sekarang, mungkin tak jarang orang merasa mentalnya terganggu. Apalagi para generasi muda yang masih punya kewajiban sekolah atau kuliah secara daring. Banyak yang mengeluhkan tentang tugas yang menumpuk, materi yang makin sulit untuk dipelajari, atau susahnya sinyal internet di daerah masing-masing. Tak jarang para siswa ini merasa tertekan hingga kesehatan mentalnya terganggu. Jika masalahnya demikian, solusinya adalah memperbaiki manajemen waktu, agar segala kegiatan dan tugas dapat terorganisir dengan baik sehingga tidak ada yang menumpuk atau saling bertabrakan. Setiap orang wajar saja kok, kalau mengalami gangguan mental. Ini normal dan tidak ada yang aneh. Tinggal bagaimana kita mengembalikan dan menjaga mental kita agar tetap stabil. Intinya, its okay not to be okay. Sekian tulisanku kali ini!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

                                   PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL DI ERA PANDEMI Sehat menurut pandangan orang awam mungkin hanya dilihat dar...