PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL DI ERA PANDEMI
Sehat menurut pandangan orang awam mungkin hanya dilihat dari segi
jasmani saja. Padahal jika kita telisik lebih dalam, kesehatan mental kita juga
tidak kalah penting lho, teman-teman. Sayangnya, pembahasan tentang kesehatan
mental ini masih terkesan tabu di Indonesia, karena stigma negatif tentang kata ‘gangguan mental’ masih saja menghantui. Orang
dengan gangguan mental seringkali dianggap gila atau sakit jiwa, padal
kenyataannya tidak seperti itu. Secara garis besar pembahasan tentang kesehatan
mental ini sering kali dianggap remeh dibandingkan dengan kesehatan fisik. Akibatnya, banyak
penderita yang takut dan memilih untuk tidak menceritakan gangguan mental yang
dialaminya.
Memangnya apa, sih, kesehatan
mental itu? Menurut World Health Organization atau yang biasa kita sebuh
WHO, kesehatan mental adalah kondisi dimana kita bisa menyadari apa potensi
kita, bisa menghadapi daily stress, bisa bekerja secara produktif, dan
bisa menghasilkan kontribusi yang baik terhadap masyarakat. Kriteria tersebut
bisa juga menjadi acuan untuk menentukan apakah mental kita cukup sehat atau
tidak.
Orang dengan
gangguan mental mungkin saja berada dalam breaking point yang dia temui
di hidupnya. Misalnya saat orang mengalami kegagalan, merasa kehilangan sesuatu
yang sangat berharga, dan bisa juga sedang merasa tertekan dengan cobaan dari
lingkungan sekitar yang dia hadapi.
Setiap individu dapat mengalami gangguan
mental. Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami
gangguan suasana hati, menurunnya kemampuan berpikir, dan bisa saja tindakannya
akan mengarah pada prilaku yang buruk. Gangguan
mental bisa bermula dari stres yang diabaikan. Oleh karenanya, stres harus
ditanggulangi agar tidak dibiarkan berlarut-larut.
Stres bukanlah sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya. Masih
berdasarkan survei Cigna tahun 2018, mayoritas orang Indonesia mengaku lebih
memilih mengatasi stres secara mandiri. Hal tersebut dilakukan dengan cara
mencurahkan keluhan kepada teman atau keluarga, tidur, olahraga, belanja, dan
liburan.
Hanya 1 dari 5 orang atau 20% responden saja yang meminta
bantuan tenaga profesional (psikolog atau psikiater), untuk membantu mengatasi
stres. Alasannya utamanya, mereka berpikir konsultasi pada psikolog atau
psikiater akan menghabiskan banyak uang.
WHO menyebutkan, anak muda alias generasi
milenial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda
merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara
psikologis, emosional, maupun finansial. Misalnya upaya untuk lulus kuliah,
mencari pekerjaan, atau mulai menyicil rumah.
Selain perubahan hidup, teknologi juga turut berkontribusi
terhadap kesehatan mental generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan media
sosial. Media sosial seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak
seindah kenyataan. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada
generasi muda.
Di era pandemi seperti sekarang, mungkin tak jarang orang merasa
mentalnya terganggu. Apalagi para generasi muda yang masih punya kewajiban
sekolah atau kuliah secara daring. Banyak yang mengeluhkan tentang tugas yang
menumpuk, materi yang makin sulit untuk dipelajari, atau susahnya sinyal
internet di daerah masing-masing. Tak jarang para siswa ini merasa tertekan
hingga kesehatan mentalnya terganggu. Jika masalahnya demikian, solusinya
adalah memperbaiki manajemen waktu, agar segala kegiatan dan tugas dapat
terorganisir dengan baik sehingga tidak ada yang menumpuk atau saling
bertabrakan. Setiap orang wajar saja kok, kalau mengalami gangguan mental. Ini normal
dan tidak ada yang aneh. Tinggal bagaimana kita mengembalikan dan menjaga
mental kita agar tetap stabil. Intinya, its okay not to be okay. Sekian tulisanku
kali ini!